Minggu, 17 Februari 2008

kisah batu bersama burung nuri bagian I

Di suatu tempat nun jauh disana, terdapat pohon besar yang berumur ribuan tahun. Jadi satu-satunya pohon yang memberikan kesejukan bagi penghuni padang savana yang gersang. Dengan sedikit merenggangkan dahannya, ditambah hiasan daun yang lebar dan lebat. Kesejukan sejauh radius 200 meter bisa dirasakan, tentu hal ini yang membuat ratusan bahkan ribuan macam penghuni padang savan yang gersang itu betah disana. Rumput tumbuh segar, batu pun memilih tinggal. Rusa, badak, dan gajah pun riang disana. Jelas burung pun tak mau kalah menghiasi suasana dengan kicauannya.
Di ujung pucuk pohon ada seekor burung nuri, indah memang tapi sendiri. semua tau kalau dia sendiri merasa sendiri, karena memang tidak ada burung nuri lain kali ini. Dan nun jauh dibawah, hidup batu hitam kelabu yang amat keras. Batu ini berbeda dia amatlah sangat keras, bahkan gajahpun tak berani menginjaknya.
Di suatu saat burung nuri pun bernyanyi dengan riang. Dan sesekali bersyair...
" berarak ke lampu batur
menampik pancaran kalbunya
sandaran tak lepas dari ibu
menunggu penghias kalbunya
heran tak berujung melantur
mencari yang bersama bukan yang sama
tak sedikit padahal, juga tak banyak rupanya "

Tak disangka, di nun jauh di bawah batu rupanya memperhatikan. Melihat, merasakan kegundahan sang burung nuri. Ingin sekali rasanya batu terbang, bukan untuk menggapai angkasa hanya sekedar melihat lebih dekat burung nuri bersuara. Cinta... cinta...
"Tapi siapa diriku, mendekat saja aku tak pantas. Aku... aku jelek, kasar, keras. Aku... aku batu, hanya seonggop batu biasa yang mengotori rerumputan. Tapi burung nuri itu sudah masuk kedalam hatiku, belum terlalu dalam sih, aku kagum dengan suaranya yang indah. Kesejukan padang savana ini pun semakin terasa, buta kah aku yang harus melirik dia. bukan nafsu yang aku punya, aku batu... dan aku hanya punya hati, satu hati yang amat berharga." batu berbicara sendiri sambil menatap burung nuri itu. Tanpa di sadari banyak burung jantan yang memperhatikan dan mentertawakannya. "Hahaha... batu tak sadar paras... bukan pangeran yang diharapkan burung nuri... tapi batu.... hahaha... mimpi di siang hari bolong gini... memang bukan rupawan yang diharapkan sang burung nuri... tapi bukan juga kau batu... sadarlah..." gerombolan burung pun kompak mentertawakan sang batu.
Dan siang itu batu menjadi bahan tertawaan, suasana padang savana itu pun menjadi bergermuruh. Tawaan renyah menggelegar sampai ke hutan sebelah.
"HAHAHAHAHA..."

to be continued...

Tidak ada komentar: